Selasa, 16 Juni 2015

Artikel, Permasalahan dalam Dasar-dasar Evaluasi Pendididkan



ARTIKEL




PERMASALAHAN PEMBELAJARAN DALAM DASAR-DASAR  EVALUASI  PENDIDIKAN


Oleh :
Nama         : JUMIATI
NIM           : 2013820098



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014/2015
ABSTRAK



Jumiati. Permasalahan Pembelajaran dalam Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Observasi ini dibuat untuk memenuhi Ujian Akhir Semester mata kuliah pembelajaran PKN di Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Penulisan ini bertujuan untuk: 1)  Mengetahui apa prinsip-prinsip dan alat evaluasi 2)Mengetahui tujuan instruksional dalam dasar-dasar evaluasi pendidikan. 3) Mengetahui bagaimana penyusunan tes itu dilakukan. 4)Mengetahui perbedaan antara menskor dan menilai. 5) Mengetahui bagaimana evaluasi program pengajaran dilakukan. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka. Pembelajaran dasar-dasar evaluasi dalam pendidikan dilakukan guna para pendidik dapat mengetahui bagaimana dasar-dasar evalusi pendidikan dapat dilakukan dengan baik dalam pembelajaran. Pembelajaran dasar-dasar evaluasi pendidikan berperan sangat penting bagi para pendidik saat akan melakukan pembelajaran yang diterima maupun yang akan diberikan kepada peserta didik baik internal maupun eksternal.


Kata kunci : Evaluasi Pendidikan

PENDAHULUAN
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, sudah secara jelas kita selalu melakukan pengukuran dan  penilaian. Dari dua kalimat tersebut kita sudah menemukan sebuah kata istilah, yaitu evaluasi, pengukuran, dan penilaian.
Untuk dapat melakukan sebuah penilaian, sebelumnya kita pasti melakukan sebuah pengukuran dari segi manapun kita dapat mengambilnya maupun melakukannya, sebagai contoh terdapat sebuah penggaris dan dua pensil ( panjang dan pendek ), dilihat secara kasat mata kita sudah bisa melakukan pengukuran dan penilaian, pensil mana yang kiranya akan digunakan terlebih dahulu ? apakah yang panjang atau yang pendek ? dan sudah jelas kebanyakan dari kita pasti akan menggunakan pensil yang panjang, untuk dipakai.
Mengenai hal diatas kita juga dapat membahas bagaimana penilaian pendidikan itu ? meskipun sekarang penilaian pendidikan memiliki makna yang lebih luas, akan tetapi pada awalnya  pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan prestasi belajar siswa. Mengenai hal ini evaluasi pendidikan pertama kali dikembangkan oleh Ralph Tyler (1950). Yang dimana evaluasi itu sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai. Akan tetapi apabila tujuan  pendidikan itu belum tercapai apa yang menyebabkan belum tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri, masalah ini dapat didefinisikan lebih luas oleh dua orang ahli ( Cronbach dan Stufflebeam ) dimana mereka mengemukakannya yaitu bahwa proses evaluasi bukan sekadar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk menggunakan keputusan.
Dalam pembelajaran yang terjadi di sekolah atau khususnya di kelas, guru adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hasilnya. Dengan demikian, para guru patut dibekali dengan evaluasi sebagai ilmu yang mendukung tugasnya, yaitu mengevaluasi hasil belajar siswa.
Mengenai Subjek Evaluasi sebagai pengertiaannya adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi. Yang disebut sebagai subjek evaluasi untuk setiap tes, ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku. Sebagai contoh;
1.      Untuk melaksanakan evaluasi tentang prestasi belajar atau pencapaian maka sebagai subjek evaluasi adalah para guru.
2.      Untuk melaksanakan evaluasi sikap yang menggunakan sebuah skala maka sebagai subyeknya dapat meminta petugas yang ditunjuk, dengan didahului oleh suatu latihan melaksanakan evaluasi tersebut.
3.      Untuk melaksanakan evaluasi terhadap kepribadian dimana menggunakan sebuah alat ukur yang sudah didistandarisasikan maka subyeknya adalah ahli-ahli psikolog. Di samping alatnya yang harus bersifat rahasia, maa subyek evaluasi haruslah seorang yang betul-betul ahli karena jawaban dan tingkah laku orang yang di tes harus diinterpretasikan dengan cara tertentu.
Dari penjelasan diatas maka penulis akan menjelaskan apa itu Objek Evaluasi dalam pembelajaran Dasar-dasar evaluasi pendidikan.
Yang dimaksudkan dengan objek atau sasaran evaluasi adalah hal-hal yang menjadi pusat perhatian untuk dievaluasi. Apa pun yang ditentukan oleh evaluator atau penilai untuk dievaluasi, itulah yang disebut dengan objek evaluasi. Pada waktu evaluator ingin menilai berat badan siswa, maka yang menjadi objek evaluasi adalah berat badan siswa, sedang angka yang menunjukan berat badan siswa dimaksud dengan hasil evaluasi. Dalam proses pendidikan, siswa berstatus sebagai subjek didik-siswa aktif belajar, sedangkan dalam evaluasi, kinerja siswa berstatus sebagai objek evaluasi-kinerja siswa dicermati dan diperhatikan oleh evaluator.
Kemudian yang menjadi aspek-aspek objek evaluasi berkenaan dengan siswa sebagai masukan mentah, masukan instrumental, dan masukan lingkungan dapat dikembangkan dari apa yang sudah disampaikan diatas tadi. Beberapa hal yang perlu dibicarakan dalam objek evaluasi adalah:
1.      Penilaian dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi
Dalam buku pedoman Penilaian Berbasis Kompetensi disebutkan bahwa Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang dikembangkan berdasarkan pada kompetensi lulusan ( untuk satu kali pembelajaran saat itu ). Tetapi dalam kepmendiknas No.232/U/2000 dan No. 045/U/2002 dijelaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu untuk masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Pengertian yang disebutkan dalam UU tersebut masih terlalu luas dan perlu penjelasan yang disampaikan secara sederhana. Secara singkat dan mudah dapat dimengerti bahwa kompetensi adalah kemampuan. Wujud dari pemilikan kompetensi seseorang dapat diketahui dari kinerja orang tersebut ketika menjawab pertanyaan atau melakukan sesuatu.
2.      Penilaian Tiga Ranah Psikologis
Menurut teori yang dikemukakan oleh Bloom, ada tiga ranah dalam rekaan psikologis manusia yang dapat diamati oleh evaluator, yaitu;
1.      Aspek kognitif yang sudah banyak dikenal dan dilakukan penilaiannya,
2.      Aspek afektif yang menunjukan pemilikan nilai dan sikap siswa, dan
3.      Aspek motorik atau keterampilan.
4.      Di Australia terdapat satu aspek lainyang juga penting untuk dikembangkan dan dievaluasi, yaitu aspek perilaku yang di dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah action.

Penilaian kompetensi aspek kognitif atau yang lebih banyak dikenal dengan istilah pengetahuan, dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap pengetahuan yang telah dikuasai dan menjadi miliknya. Cara yang dapat digunakan melalui tes tertulis maupun lisan. Perbedaan antara penilaian kurikulum yang bukan KBK dengan yang KBK, terletak pada ketetapan objek yang dinilai. Kecenderungan masa lalu sebelum ada kebijakan KBK.

3.      Penilaian aspek Afektif
Penilaian yang sudah banyak dilakukan oleh guru, bukan penilaian yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional dalam ujian akhir atau semester barulah penilaian yang tertuju pada ranah kognitif. Seperti sudah disinggung dalam pembahasan diatas, bahwasannya aspek yang masih cenderung hanya aspek kognitif saja, dan melupakan aspek afektif yang sebetulnya sangat erat dan mendukung pencapaian aspek kognitif.
Contoh:
Penilaian terhadap prestasi matematika pada siswa, bukan hanya kepandaian siswa itu dalam menyelesaikan perhitungan, tetapi juga harus dinilai seberapa cermat siswa tersebut dalam menuliskan angka-angka dalam hitungan dimaksud. Kekurangan membuat tanda koma misalkan, akan sangat berakibat fatal dalam perhitungan.
Dalam pembahasan diatas sudah dijelaskan mengenai subjek evaluasi, dan sasaran evaluasi bahkan sekaligus mengenai objek evaluasinya, maka yang sekarang akan penulis menjelaskan mengenai sasaran evaluasi secara rinci, yakni: objek atau sasaran evaluasi adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi untuk unsur-unsurnya meliputi;
1.      Input, calon siswa sebagai pribadi yang utuh dapat ditinjau dari beberapa segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidaknya mencakup empat hal, yaitu; kemampuan dari seorang calon siswa, kepribadiannya, sikap-sikap yang dimilikinya, dan juga intelegensi bagi calon siswa.
2.      Transformasi, banyak unsur yang terdapat dalam transformasi yang semuanya dapat menjadi sasaran atau objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan yang diharapkan. Unsur-unsur yang menjadi objek dalam transformasi antara lain, 1) kurikulum/materi, 2) metode dan cara penilaian, 3) sarana pendidikan/media, 4) sistem administrasi, 5) guru dan personal lainnya.
3.      Output, penilaian terhadap lulusan suatu sekolah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian/prestasi belajar mereka selama mengikuti program. Alat yang digunakan untuk mengukur pencapaian ini disebut tes pencapaian atau achievement test. Kecenderungan yang ada sampai saat ini di sekolah adalaha bahwa guru hanya menilai prestasi belajar aspek konitif atau kecenderungan saja. Alatnya adalah tes tertulis.


METODE
            Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Yakni mengkaji berbagai literatur untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Sedangkan pendidikan Dalam (Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional) dijelaskan pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang tertuang ke dalam tujuan pendidikan nasional, Sedangkan Menurut Kamus Bahasa Indonesia, Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, dari devinisi tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa pendidikan mempunyai arti sebuah cara mendidik siswa atau memotivasi siswa untuk berperilaku baik dan membanggakan. bila dijelaskan secara spesifik, maka devinisi pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran atau pembelajaran.

1.  Prinsip-prinsip dan Alat evaluasi
A.    Prinsip-prinsip Evaluasi
Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen, yaitu:
a.       Tujuan pembelajaran,
b.      Kegiatan pembelajaran atau KBM, dan
c.       Evaluasi
Triangulasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut.


Tujuan


KBM
Evaluasi



Penjelasan dari bagan triangulasi adalah demikian.
a.       Hubungan antara Tujuan dengan KBM
Kegiatan belajar-mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah yang menunjukan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.
b.      Hubungan antara Tujuan dengan Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi menuju ke tujuan. Di sisi lain, jika dilihat dari langkah, dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan.
c.       Hubungan antara KBM dengan Evaluasi           
Seperti yang sudah dijelaskan pada nomor 1) KBM dirancang dan disusun dengan mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan. 2) bahwa alat evaluasi juga disusun dengan mengacu pada tujuan. Kecenderungan yang terdapat dalam praktek sekarang ini adalah bahwa evaluasi hasil belajar hanya dilakukan dengan tes tertulis, menekankan aspek pengetahuan saja. Hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek lain, kurang mendapatkan aspek pengetahuan.


B.     Alat  Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang dalam melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien. Kata alat biasa disebut juga dengan istilah “ instrument“. Dengan demikian, alat evaluasi juga dikenal dengan instrument evaluasi.
Contoh pertama:
jika yang dievaluasi suatu keterampilan siswa dalam membaca, maka hasil evaluasinya berupa gambaran tentang tingkat keterampilan siswa dalam membaca.
Contoh kedua:
jika yang dievaluasi seberapa siswa mampu mengingat nama kota atau sungai, hasil evaluasi berupa berapa banyak siswa dapat menyebutkan nama kota dan sungai yang diingat.
Dengan pengertian tersebut, alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut sang evaluator menggunakan cara atau teknik, maka dikenal dengan teknik evaluasi.

2.     Tujuan Instruksional ( Instructional Objectives )
Materi sesuatu bidang studi tidak mungkin menjadi milik kita, tanpa dipelajari terlebih dahulu, baik dipelajari sendiri maupun diajarkan oleh guru. Proses atau kegiatan mempelajari materi ini terjadi dalam saat terjadinya situasi belajar-mengajar atau pengajaran (Instruksional). Dari perkataan pengajaran atau instruksional inilah maka timbul istilah tujuan instruksional, yaitu tujuan yang menggabarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Ada dua macam tujuan instruksional, yaitu: 1) Tujuan Instruksional Umum, dan 2) Tujuan Instruksional Khusus. Sebenarnya tujuan khusus dari instruksional sudah menjadi satu kesatuan atau satu tujuan sebagai tujuan instruksional umum.
Di dalam merumuskan tujuan instruksional harus diusahakan agar tampak bahwa setelah tercapainya tujuan itu terjadi adanya perubahan pada diri anak yang meliputi kemampuan intelektual, sikap/minat maupun keterampilan yang di utarakan oleh Bloom dan kawan-kawannya dikenal sebagai aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dalam merancang system belajar yang akan dilakukan oleh seorang guru, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat tujuan instruksional. Dengan tujuan:
a.       Guru memiliki arah untuk memilih bahan pelajaran dan memilih prosedur mengajar.
b.      Siswa mengetahui arah belajarnya
c.       Setiap guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenangnya dalam mengajarkan suatu materi sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah atau saling menutup antara guru.
d.      Guru memiliki patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa.
e.       Guru sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang kebijaksanaan mempunyai criteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efisiensi pengajaran.

3.     Penyusunan Tes
Tentu saja setiap guru akan dengan mudah mengatakan bagian pelajaran mana yang akan dicakup dalam sebuah tes jika sudah diketahui tujuannya. Dalam penyusunan tes aka nada langkah-langkah dalam membuat atau menyusun tes secara rinci sebagai berikut:
1.      Menentukan tujuan mengadakan tes
2.      Melakukan pembatasan terhadap bahan yang akan dijadikan tes,
3.      Merumuskan tujuan instruksional khusus dati tiap bagian bahan,
4.      Mengurutkan semua indicator dalam tabelpersiapan yang memuat pula aspek tingkah laku terkandung dalam indicator tersebut,
5.      Menyusun table spesifikasi yang memuat pokok materi, aspek berpikir yang diukur beserta imbangan antara kedua hal tersebut.
6.      Menuliskan butir-butir soal, didasarkan atas indicator-indikator yang sudah dituliskan pada table indicator dan aspek tingkah laku yang dicakup.
Apabila indikator ditulis sangat khusus, maka saw indicator diukur oleh saw butir soal. Akan tetapi, jika indicator itu merupakan indicator esensial, maka satu indicator dapat diukur dengan lebih dari satu butir soal.




4.     Evaluasi Program Pengajaran
Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Ada beberapa pengertian tentang program itu sendiri. Di dalam kamus tertulis: program adalah rencana, Program adalah kegiatan yang direncanakan dengan seksama.
Melakukan evaluasi program adalah Kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan. Sesuatu kegiatan dapat direncanakan apabila kegiatan yang bersangkutan memang dipandang penting sehingga apabila tidak direncanakan secara baik, bisa jadi akan timbul kesulitan atau hambatan. Penyelenggaraan pendidikan bukan sesederhana membuat misalkan rencana liburan. Dampak pendidikan akan meliputi banyak orang dan menyangkut banyak aspek. Oelh karena itu, kegiatan pendidikan harus dievaluasi agar dapat dikaji apa kekurangannya? Dan kekurangan tersebut dapat di pertimbangkan untuk pelaksanaan pendidikan pada waktu lain. Sebenarnya yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah keingintahuan penyusun program untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum.
Apa perlunya melakukan evaluasi program? Evaluasi program biasanya dilakukan untuk kepentingan pengambil kebijaksanaan untuk menentukan kebijaksanaan selanjutnya. Dengan melalui evaluasi program, langkah evaluasi bukan hanya dilakukan seadanya saja, akan tetapi harus sistematis, rinci, dan menggunakan prosedur yang sudah diuji secara cermat. Dengan metode-metode tertentu maka akan diperoleh data yang baik, jelas serta dapat dipercaya. Penentuan kebijaksanaan akan tepat apabila data yang digunakan sebagai dasar pertimbangan tersebut benar, akurat, dan lengkap.
Ada empat macam kebijaksanaan lanjutan yang mungkin diambil setelah evaluasi program dilakukan, yaitu:
a.       Kegiatan tersebut dilanjutkan karena dari data yang terkumpul diketahui bahwa program ini sangat bermanfaat dan dapat dilaksanakan dengan lancar tanpa hambatan sehingga kualitas pencapaian tujuannya tinggi.
b.      Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penyempurnaan karena dari data yang berkumpul diketahui bahwa hasil program sangant bermanfaat  tetapi pelaksanaannya kurang lancar atau kualitas pencapaian tujuan kurang tinggi.
c.       Kegiatan tersebut dimodifikasi karen Data yang terkumpul dapat diketahui bahwa kemanfaatan hasil program kurang tinggi sehingga perlu disusun lagi perencanaan secara lebih baik.
d.      Kegiatan tersebut tidak dapat dilanjutkan ( dengan kata lain dihentikan) karena dari data yang terkumpul diketahui bahwa hasil program kurang bermanfaat, ditambah lagi di dalam pelaksanaan sangat banyak hambatannya.


KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa dasar-dasar evaluasi pendidikan dimaksudkan agar pembelajaran lebih bermakna dan utuh serta dapat berkembang secara baik dan terstruktur. Dasar-dasar evaluasi pendidikan ini  memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan perhatian, aktivitas belajar, dan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajarinya dan yang telah diberikan oleh siswa, karena guru harus lebih perduli terhadap peningkatan mutu pendidikan yang lebih tersusun secara sistematis, dan terus bisa memperbaiki mutu kinerja guru terhadap pembelajaran dan mutu program pendidikan  , peran guru serta peningkatan program dalam dasar-dasar evaluasi pendidikan menjadi salah satu tujuan bagaimana  seharusnya guru dapat meningkatkan mutu kualitas siswa, kinerja guru, serta mutu sekolah.
Sebuah tujuan akan terwujud apabila Peningkatan  hasil belajar dan mutu kinerja guru sudah terealisasi dengan upaya yang mereka susun secara sistematis, serta diikuti dengan dasar-dasar evaluasi pendidikan yang baik. Dalam pembelajaran yang terjadi di sekolah atau khususnya di kelas, guru adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hasilnya. Dengan demikian, para guru patut dibekali dengan evaluasi sebagai ilmu yang mendukung tugasnya, yaitu mengevaluasi hasil belajar siswa.


SARAN
Untuk mewujudkan tujuan yang telah disusun dengan baik, maka penulis sedikit memberikan saran bagi para guru, yakni: 1) dimana guru harus mengetahui dasar-dasar evaluasi apa yang akan dilakukan untuk mutu kinerja dan program mereka. 2) melakukan instruksional sebagai pengetahuan serta mempermudah program yang akan dilakukan sesuai tujuannya. 3) seharusnya para evaluator lebih peka terhadap mutu pendidikan yang saat ini dipandang sudah semakin menurun dan melenceng dari tujuan itu sendiri. Dengan demikian guru juga harus menerima kritik serta saran dari berbagai pihak, agar dapat melakukan keinginan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik lagi.







DAFTAR PUSTAKA


Amir DaienIndrakusuma. 1975. Evaluasi pendidikan, jilid I. Terbitan sendiri
Marsandi, Suharsimi Arikunto, Suroso, R.F. Salinger. 1978. Dasar-dasar ruang lingkup dan Strategi penelitian disekolah. Jakarta: BP3K Dep. P dan K.
Sudijarto, 1978. Kurikulum 1975, Latar Belakang Proses Pengembangan, cirri-cirinya dan Implikasi Pelaksanaannya. Jakarta: BP3K Dep. P Dan K.
Suharsini, Arikunto. 1978. Sebuah pengetahuan Dasar Tentang Evaluasi Pendidikan. Terbitan Sendiri.
Thorndike, Robert L & Hagen Elizabeth. 1955. Measurement and Evaluation In Psychology and Education, Third Editioun. New York : John wiley & Sons, Inc.